Peresmian Tugu Raja Sitanggang: Momen Bersejarah bagi Keturunan Sitanggang


Jakarta - Peresmian Tugu Raja Sitanggang semakin dekat, dan diskusi mengenai tarombo (silsilah) serta persiapan acara terus berlangsung di berbagai kelompok komunikasi. Acara ini bukan sekadar seremoni biasa, tetapi menjadi ajang bagi seluruh keturunan Sitanggang untuk mempererat persaudaraan dan mengingat kembali sejarah leluhur mereka.

Dalam perbincangan di berbagai grup keluarga Sitanggang, penegasan mengenai tarombo menjadi pembahasan utama. Beberapa pihak menekankan pentingnya meluruskan dan meneguhkan silsilah agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam generasi penerus. Seperti yang disampaikan oleh Jefri Sitanggang, tarombo harus dijunjung tinggi dan disepakati bersama, karena merupakan bagian penting dari identitas keluarga besar ini.

Sebagai persiapan peresmian, berbagai pihak juga membahas mengenai susunan acara. Beberapa usulan yang muncul mencakup pemotongan pita sebagai simbol peresmian, pertunjukan tortor (tarian adat Batak), serta pembacaan tarombo yang telah disepakati oleh para tetua adat.

Dari sisi pendanaan, berbagai keluarga dan komunitas turut serta dalam penggalangan dana untuk pembangunan tugu. Berdasarkan laporan yang diterima, donasi terus mengalir dari berbagai daerah, termasuk dari keluarga Sitanggang di Medan, Jakarta, Bandung, hingga luar negeri. Beberapa di antaranya melalui penjualan bahan jas dan kalender yang hasilnya digunakan untuk membiayai pembangunan tugu.

Dukungan finansial yang cukup besar ini menunjukkan betapa besarnya kepedulian para keturunan Raja Sitanggang dalam mewujudkan tugu yang akan menjadi simbol kebersamaan mereka. Ir. Jonni Sitanggang dari Medan melaporkan bahwa sejumlah besar dana telah terkumpul melalui transfer bank, yang membuktikan komitmen dan rasa memiliki terhadap warisan leluhur.

Sementara itu, persiapan teknis di lokasi juga terus dikerjakan. Beberapa laporan menyebutkan adanya uji coba pencahayaan di sekitar rumah parsantian, sebagai bagian dari upaya memastikan acara peresmian berlangsung dengan optimal. Beberapa anggota keluarga menyarankan penggunaan lampu tembak untuk meningkatkan pencahayaan agar lokasi tugu terlihat lebih terang dan megah.

Dalam diskusi yang berlangsung, beberapa tokoh adat juga menekankan pentingnya menjaga kekompakan dalam menyelenggarakan acara ini. Para tetua adat menegaskan bahwa tarombo bukan sekadar rangkaian nama leluhur, tetapi juga bukti sejarah yang harus dihormati dan diwariskan dengan benar kepada generasi mendatang.

Acara peresmian ini juga diharapkan menjadi momentum untuk mengokohkan kembali nilai-nilai persaudaraan dan gotong royong dalam keluarga besar Sitanggang. Sebagai warisan budaya, tugu ini tidak hanya menjadi simbol fisik, tetapi juga lambang kebanggaan bagi seluruh keturunan yang tersebar di berbagai penjuru dunia.

Salah satu tokoh yang berperan aktif dalam koordinasi acara, Marhiras Sitanggang dari Medan, menyampaikan bahwa dalam rapat Purasitabor hari Senin mendatang, akan dibahas lebih lanjut mengenai teknis pelaksanaan peresmian. Keputusan final mengenai urutan acara akan diputuskan dalam pertemuan tersebut.

Sejalan dengan itu, berbagai pihak berharap agar peresmian tugu ini dapat menjadi contoh bagi marga-marga lainnya dalam menjaga sejarah dan warisan leluhur mereka. Seperti yang dikatakan oleh seorang anggota keluarga, "Jangan sampai tugu hanya menjadi pajangan, tetapi harus menjadi pengingat bahwa kita memiliki akar yang kuat."

Dengan semakin mendekati hari peresmian, semangat kebersamaan keluarga Sitanggang semakin terasa. Baik melalui donasi, persiapan teknis, hingga diskusi mengenai tarombo, semua elemen keluarga turut serta dalam memastikan acara ini berlangsung sukses.

Peresmian Tugu Raja Sitanggang bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang membangun masa depan yang lebih erat dalam satu kesatuan keluarga. Dengan harapan dan doa, keluarga besar Sitanggang siap menyambut momen bersejarah ini dengan penuh sukacita dan kebanggaan.

Post a Comment

0 Comments