SAMOSIR – Ribuan keturunan Raja Sitanggang dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul di Samosir untuk merayakan peresmian Tugu Raja Sitanggang. Acara yang berlangsung selama tiga hari ini dihadiri oleh tokoh adat, pemuka agama, serta berbagai lapisan masyarakat yang memiliki pertalian kekerabatan dengan Raja Sitanggang.
Ketua Umum Peresmian Tugu, St. Drs. Saut Sitanggang, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas suksesnya acara ini. Ia mengapresiasi seluruh panitia dan pihak yang telah bekerja keras dalam persiapan dan pelaksanaan acara. “Kami mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah berkontribusi, baik dalam pemikiran, tenaga, maupun dukungan moral,” ujarnya.
Dalam acara tersebut, berbagai ritual adat Batak dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Upacara adat ini melibatkan tortor, gondang, serta prosesi peletakan batu terakhir sebagai simbolisasi penyempurnaan pembangunan tugu. Kehadiran para tokoh adat dan pemuka agama semakin memperkuat nilai sakral dari peresmian tugu ini.
Acara peresmian ini juga menjadi ajang reuni bagi keturunan Raja Sitanggang yang tersebar di berbagai daerah. Banyak yang datang dari luar Sumatera Utara, termasuk dari Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan bahkan luar negeri. Mereka berkumpul untuk mempererat tali persaudaraan serta meneguhkan kembali nilai-nilai kebersamaan dalam adat Batak.
Selain itu, dalam peresmian ini juga dibahas berbagai hal terkait perkembangan komunitas keturunan Raja Sitanggang. Salah satu poin yang menjadi pembahasan utama adalah pembentukan organisasi resmi yang akan menaungi berbagai kegiatan sosial dan kebudayaan bagi keturunan Raja Sitanggang di masa mendatang.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, para keturunan Raja Sitanggang juga mengadakan doa bersama serta bantuan bagi anggota keluarga yang membutuhkan. Salah satu kasus yang mendapat perhatian adalah seorang anak perempuan berusia 10 tahun yang ditinggalkan sendirian di RSUD Pirngadi Medan setelah ayahnya meninggal dunia. Informasi ini segera disebarluaskan oleh anggota komunitas agar keluarga terdekatnya dapat ditemukan.
Rapat Kerja Nasional (Rakernas) juga menjadi bagian dari rangkaian acara ini. Rakernas bertujuan untuk merumuskan kebijakan dan langkah strategis dalam memperkuat organisasi serta mendukung pembangunan tugu dan kegiatan sosial lainnya. Ketua panitia Rakernas menyatakan bahwa keputusan yang dihasilkan dalam rapat ini akan membawa dampak positif bagi seluruh keturunan Raja Sitanggang.
Perjalanan menuju Samosir bagi banyak peserta menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Rombongan dari berbagai daerah, termasuk Purasitabor sektor 13 Martoba - Amplas, melaporkan bahwa perjalanan mereka berlangsung lancar dan penuh kebersamaan. Mereka kembali ke Medan dengan sukacita setelah menghadiri peresmian tugu yang bersejarah ini.
Banyak peserta acara mengungkapkan kebanggaannya terhadap penyelenggaraan acara ini. Salah satunya, Marsianus Sitanggang dari Bekasi Timur, mengatakan bahwa Pesta Tugu Raja Sitanggang berjalan dengan lancar dan sukses. “Puji Tuhan, acara ini membawa kebahagiaan dan mempererat tali persaudaraan kita,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Purasitabor Indonesia juga memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras dalam menyukseskan acara ini. Ia berharap agar nilai-nilai persatuan dan kebersamaan ini terus dijaga demi kelangsungan generasi mendatang.
Tak hanya peresmian tugu, acara ini juga diisi dengan renungan rohani yang disampaikan oleh Pdt. Kamiden Sitanggang. Dalam renungannya, ia mengajak semua peserta untuk selalu bersyukur atas berkat Tuhan dan tetap teguh dalam iman meskipun menghadapi berbagai tantangan hidup.
Peresmian tugu ini tidak hanya menjadi momentum budaya, tetapi juga membangun solidaritas antaranggota keluarga besar Raja Sitanggang. Melalui pertemuan ini, para keturunan Raja Sitanggang di seluruh Indonesia semakin menyadari pentingnya menjaga persatuan dan melestarikan warisan leluhur mereka.
Dengan diresmikannya Tugu Raja Sitanggang, diharapkan semangat kebersamaan di antara pomparan Raja Sitanggang semakin kuat. Peresmian ini menjadi bukti nyata bahwa sejarah dan budaya tetap hidup dalam sanubari masyarakat Batak di tengah perkembangan zaman.
Horas untuk seluruh pomparan Raja Sitanggang! Semoga kebersamaan dan kekompakan ini terus terjaga demi masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
.jpg)
0 Comments
Terimakasih