Perdebatan mengenai tarombo (silsilah) dan peresmian Tugu Raja Sitanggang terus berkembang di kalangan masyarakat Sitanggang. Berbagai pandangan muncul dalam diskusi yang berlangsung secara daring, memperlihatkan pentingnya tarombo dalam menjaga identitas marga Batak.
Tugu yang akan dibangun ini dimaksudkan sebagai simbol eksistensi marga Sitanggang di Samosir dan sebagai pengingat bagi generasi mendatang tentang asal-usul mereka. Namun, perbedaan pendapat muncul terkait susunan tarombo yang dianggap berbeda dalam beberapa versi.
Dalam perbincangan yang dilakukan oleh sejumlah anggota Punguan Raja Sitanggang, Jefri Sitanggang menyampaikan bahwa konsep tugu ini harus sejalan dengan tarombo yang telah ada. Dia menegaskan bahwa dalam sejarah, Sitanggang memiliki hubungan erat dengan marga Sigalingging. Hal ini memicu perdebatan di antara anggota grup, terutama dalam menentukan kebenaran sejarah yang harus dijadikan dasar pembangunan tugu.
Sebagian besar peserta diskusi sepakat bahwa perlu dilakukan pertemuan resmi untuk membahas tarombo dengan bukti yang lebih kuat. Hal ini juga didukung oleh Paianhot Sitanggang, yang menekankan pentingnya pencatatan sejarah secara tertulis agar generasi mendatang memiliki sumber yang jelas dan tidak terjadi perdebatan di kemudian hari.
Selain perdebatan mengenai tarombo, diskusi juga membahas persiapan peresmian tugu. Beberapa anggota mengajukan pertanyaan terkait fasilitas yang akan tersedia, termasuk kesiapan toilet bagi tamu yang hadir dalam acara tersebut. Kastro Sitanggang menyampaikan bahwa panitia sudah mengantisipasi kebutuhan tersebut dengan menyiapkan tambahan fasilitas.
Dari sisi pendanaan, banyak anggota marga yang menunjukkan kepedulian dengan memberikan donasi untuk pembangunan tugu. Dana yang terkumpul berasal dari berbagai daerah, seperti Medan, Jakarta, Bandung, Pekanbaru, dan bahkan luar negeri. Ini menunjukkan kuatnya rasa persaudaraan di antara keturunan Raja Sitanggang.
Dalam diskusi, beberapa peserta juga mengingatkan agar generasi muda lebih terlibat dalam pelestarian adat dan sejarah marga. Ada kekhawatiran bahwa minimnya keterlibatan kaum muda bisa menghambat pelestarian budaya Batak. Sejumlah anggota marga menekankan perlunya regenerasi dalam kepemimpinan adat agar tradisi tetap hidup.
Perdebatan ini juga menyinggung pentingnya memahami sejarah marga Sitanggang dalam konteks yang lebih luas. Beberapa anggota membandingkan bagaimana bangsa lain, seperti Israel, sangat menjaga sejarah dan garis keturunannya. Hal ini menjadi refleksi bagi masyarakat Batak untuk lebih serius dalam mendokumentasikan sejarah mereka.
Diskusi ini akhirnya berujung pada kesepakatan untuk melanjutkan pembangunan tugu sesuai dengan rencana awal, sambil tetap membuka ruang diskusi mengenai tarombo secara akademis dan berbasis bukti. Para tokoh marga juga mengajak seluruh keturunan Raja Sitanggang untuk tetap bersatu demi keberlangsungan warisan budaya ini.
Dengan adanya tugu ini, diharapkan generasi mendatang memiliki kebanggaan dan pemahaman lebih dalam tentang asal-usul mereka. Peresmian yang direncanakan akan melibatkan seluruh pinompar (keturunan) Raja Sitanggang dari berbagai daerah, menjadikannya sebagai momentum bersejarah bagi marga ini.

0 Comments
Terimakasih