PARDOMUANSITANGGANG.COM - Pada acara seminar pendidikan yang berlangsung di Universitas Negeri Medan (Unimed), suasana penuh semangat dan kebanggaan terasa sejak awal. Acara dimulai dengan sambutan dari moderator yang membuka acara setelah Rektor Unimed resmi membuka seminar tersebut dengan kata-kata bijak. Selanjutnya, sesi seminar nasional pendidikan pun dimulai, yang dipandu oleh Dr. Tapil Rambe, M.Si.
Setelah itu, Dr. Tapil Rambe mengundang berbagai tokoh penting untuk memberikan sambutan, termasuk Rektor Universitas Negeri Medan, Wakil Rektor, dan Ketua Senat. Mereka semua turut hadir dalam acara yang dihadiri oleh para mahasiswa, alumni, dan dosen Unimed.
Dalam sambutannya, Dr. Tapil Rambe juga menyampaikan rasa bangga dan cinta kepada Unimed sebagai almamater. Tak lupa, ia menyampaikan ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung acara ini. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan memperkenalkan narasumber pertama, yakni Prof. Dr. Sawyaal Gultom, M.Pd, yang merupakan Rektor Unimed selama dua periode dan kini menjabat sebagai Ketua Senat Unimed.
Narasumber kedua, Bapak Haji S. M.M, seorang pengusaha sukses yang juga anggota DPR RI, turut hadir dan memberikan apresiasi terhadap semangat pendidikan di tanah Deli. Kedua narasumber ini akan membahas berbagai hal penting seputar dunia pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.
Setelah sesi sambutan, Prof. Dr. Sawyaal Gultom memulai sesi materi pertama dengan berbicara mengenai pengembangan sumber daya manusia di Indonesia. Ia mengungkapkan beberapa data yang mencerminkan tantangan besar yang dihadapi Indonesia, seperti rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (HDI) di ASEAN dan rendahnya tingkat inovasi serta produktivitas tenaga kerja. Prof. Gultom menekankan bahwa pengembangan sains dan inovasi adalah kunci untuk membangun bangsa, dan pendidikan harus berfokus pada pengembangan sikap ilmiah, yang telah digagas oleh tokoh-tokoh besar seperti Tan Malaka dan Jawaharlal Nehru.
Sesi seminar ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan inspirasi untuk memperbaiki kualitas pendidikan dan meningkatkan daya saing Indonesia di dunia global.
Seminar Pendidikan dan Tantangan Masa Depan Indonesia
Namun, narasumber juga menyampaikan kekhawatirannya bahwa dengan sistem pendidikan yang ada saat ini, Indonesia tidak akan mampu mewujudkan cita-cita besar tersebut. Menurutnya, pendidikan saat ini tidak cukup efektif dalam mencetak sumber daya manusia yang seimbang antara integritas, keterampilan, dan pengetahuan. Banyak lulusan perguruan tinggi yang tidak memiliki kualitas yang diharapkan, dengan contoh utama adalah tingginya angka korupsi di kalangan orang-orang yang seharusnya menjadi pemimpin negara.
Pendidikan yang ada dinilai belum mampu menciptakan karakter yang kuat, seperti yang terlihat di negara-negara seperti Jepang, Singapura, dan Thailand, yang memiliki standar pendidikan lebih tinggi dan karakter yang lebih baik. Salah satu poin penting yang disorot adalah rendahnya sikap ilmiah di kalangan masyarakat Indonesia. Negara yang memiliki sikap ilmiah tinggi, yang mengutamakan objektivitas, data, dan fakta, akan lebih maju dan sejahtera.
Dalam seminar tersebut, narasumber juga menggarisbawahi pentingnya sikap ilmiah yang terbuka dan objektif. Pendidikan yang baik harus bisa menerima kritik dan perubahan, karena hanya mereka yang memiliki sikap terbuka yang dapat berkembang. Sebaliknya, mereka yang terjebak dalam sikap tertutup dan tidak objektif akan sulit maju.Sebagai contoh, narasumber menyebutkan angka pengangguran yang tinggi di Indonesia, khususnya di kalangan lulusan perguruan tinggi, yang mencapai hampir 500.000 orang. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan dan pelatihan yang ada belum mampu menjawab tantangan dunia kerja dan menciptakan peluang bagi para lulusan.
Seminar ini memberikan gambaran jelas bahwa untuk mewujudkan Indonesia 2045 yang maju dan sejahtera, diperlukan sebuah desain pendidikan yang lebih baik, yang terintegrasi dengan politik, ekonomi, dan sosial, serta membentuk karakter bangsa yang lebih ilmiah, terbuka, dan objektif.
Seminar Pendidikan dan Tantangan Masa Depan
Pada seminar yang diselenggarakan di Universitas Negeri Medan (Unimed), salah satu narasumber menyampaikan pandangannya mengenai tantangan besar yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia, terutama dalam menghadapi masa depan. Dalam penjelasannya, narasumber menekankan pentingnya sikap ilmiah yang tinggi, yang menurutnya sangat berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang, baik dalam dunia kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari.
"Nah, kenapa saya mengatakan bahwa jika sikap ilmiah seseorang tinggi, mustahil dia menganggur?" ujar narasumber. Ia menjelaskan bahwa sikap ilmiah yang baik mencakup empat aspek penting: objektivitas, berpikiran terbuka (open mind), rasionalitas, dan berpihak pada kebenaran. Dengan memelihara keempat sikap ini, seseorang akan lebih mudah berkembang dan tidak terjebak dalam pengangguran. Sikap ilmiah ini, lanjutnya, juga membuat individu lebih mudah menerima kritik, saran, dan perubahan, yang merupakan kunci untuk terus maju.
Selanjutnya, narasumber mengajukan beberapa pertanyaan krusial mengenai pendidikan masa depan. Salah satunya adalah bagaimana kita mempersiapkan generasi yang siap menghadapi pekerjaan yang belum ada saat ini. Mengingat banyak pekerjaan masa depan yang belum terdefinisi, narasumber menyarankan agar pendidikan lebih berfokus pada kemampuan dasar yang memungkinkan lulusan beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan.Menurut narasumber, untuk menjawab tantangan tersebut, pendidikan harus menekankan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai yang seimbang. Dalam hal ini, ia mengutip penelitian dari OECD yang mengajukan empat aspek penting yang harus dimiliki oleh generasi masa depan: pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai.
Ia juga menegaskan bahwa Indonesia memiliki nilai agama yang sangat kuat dan relevan untuk masa depan. "Nilai agama adalah nilai yang paling mutakhir di dunia. Jika seluruh pejabat di Indonesia memiliki sikap ilmiah dan memahami nilai agama, negara ini bisa menjadi negara tercepat untuk maju," tegasnya. Selain itu, ia menambahkan bahwa nilai kearifan lokal dan nilai global juga perlu diperhatikan dalam pendidikan untuk mempersiapkan generasi yang siap menghadapi dunia yang semakin terhubung.
Pada kesempatan itu, narasumber juga merujuk pada pandangan World Intellectual Property Organization (WIPO) yang menanyakan tentang apa yang akan menjadi pendorong utama pertumbuhan dan inovasi di masa depan. Hal ini menekankan pentingnya fokus pada pengembangan inovasi dan teknologi dalam pendidikan untuk membangun kualitas manusia yang berkelanjutan.
Seminar ini memberikan gambaran yang jelas bahwa untuk menciptakan generasi yang siap menghadapi masa depan, sistem pendidikan Indonesia perlu bertransformasi dengan fokus pada pengembangan sikap ilmiah, keterampilan adaptif, dan nilai-nilai yang relevan dengan perkembangan zaman.
Seminar Pendidikan dan Tantangan Pendidikan Masa Depan
Pada seminar pendidikan yang berlangsung di Universitas Negeri Medan (Unimed), narasumber menyampaikan pemikirannya tentang masa depan pendidikan Indonesia, dengan menyoroti tantangan yang dihadapi negara dalam menghadapi perubahan zaman. Narasumber mengutip UNESCO 2021 yang menekankan perlunya negara, termasuk Indonesia, untuk "menata ulang pendidikan" demi mempersiapkan generasi masa depan yang dapat menghadapi tantangan besar. "Kita perlu reimagine pendidikan kita," ujarnya.
Dalam pemaparannya, narasumber juga menegaskan bahwa satu-satunya pilihan bagi Indonesia untuk menghadapi tantangan masa depan adalah dengan menjadikan pendidikan sebagai faktor penghubung dalam seluruh dimensi keberlanjutan. Pendidikan, menurutnya, harus bisa menjembatani masalah besar yang dihadapi bangsa ini, termasuk dalam bidang politik, ekonomi, dan budaya. "Pendidikan adalah kunci untuk menjembatani seluruh persoalan, karena pendidikan berbicara soal nilai," tegasnya.
Melihat ke depan, narasumber mengungkapkan bahwa nilai-nilai yang harus diajarkan dalam pendidikan Indonesia 2045 adalah kesejahteraan bagi seluruh rakyat, akses kesehatan yang merata, ketersediaan pangan, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia dan perdamaian. "Pendidikan itu bukan sekadar mengajarkan matematika, fisika, atau kimia. Itu hanya alat. Tujuannya adalah untuk mengajarkan nilai-nilai yang lebih besar," tambahnya.Narasumber juga menanggapi kebijakan pendidikan yang mengusulkan pengajaran matematika sejak tingkat TK. Ia berpendapat bahwa pengajaran matematika dengan topik yang kompleks seperti geometri dan kalkulus di usia dini adalah hal yang keliru. "Matematika itu adalah ilmu yang kompleks. Mengajarkan matematika di TK tanpa pemahaman yang tepat akan sia-sia," ujarnya dengan tegas.
Menurutnya, pendidikan harus fokus pada pengembangan keterampilan berpikir kritis sejak usia dini, karena berpikir adalah fasilitas termewah yang diberikan Tuhan kepada manusia. "Pendidikan seharusnya mengajarkan anak-anak untuk berpikir kritis, bukan hanya sekadar menghafal rumus matematika," jelas narasumber.
Seminar ini memberikan gambaran tentang pentingnya mendesain ulang pendidikan Indonesia agar tidak hanya fokus pada pengajaran ilmu pengetahuan teknis, tetapi juga pada pengembangan karakter dan nilai-nilai yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Tantangan Pendidikan dan Kebijakan Negara dalam Menghadapi Indonesia 2045
Dalam seminar pendidikan yang diadakan di Universitas Negeri Medan (Unimed), narasumber menyampaikan pandangannya terkait dengan masa depan pendidikan Indonesia dan kebijakan negara dalam mencapai Indonesia 2045. Ia menekankan pentingnya keseriusan dalam memilih pemimpin pendidikan yang memiliki rekam jejak yang jelas, bukan hanya berdasarkan partai politik. "Seringkali, Amerika mencari menteri pendidikan berdasarkan track record, sementara Indonesia memilih berdasarkan partai," ujarnya, menyiratkan kekecewaan terhadap sistem seleksi yang kurang memprioritaskan kompetensi.
Narasumber juga menanggapi kemungkinan dirinya ditawari untuk menjadi menteri pendidikan, yang ia nilai belum tentu diterimanya. "Saya lebih mencintai Unimed daripada jadi menteri," katanya, menekankan pentingnya integritas dan kecintaan pada dunia pendidikan.Ia kemudian mengingatkan pentingnya kembali kepada nilai-nilai yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945, khususnya terkait dengan mencetak generasi yang cerdas, adil, dan aktif di dunia internasional. Menurutnya, untuk mencapai tujuan tersebut, Indonesia harus memikirkan masa depan dengan lebih serius, terutama dalam hal pembangunan berkelanjutan. "Bumi Indonesia ini bukan warisan untuk kita, tapi pinjaman dari generasi masa depan," ujarnya, menekankan bahwa pembangunan saat ini harus memperhatikan dampaknya terhadap generasi yang akan datang.
Narasumber juga menyoroti perbedaan dalam pendekatan kebijakan pendidikan antara Indonesia dan negara-negara maju. Ia mengungkapkan pengalamannya saat melakukan studi banding di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, seperti Jerman dan Belanda. "Kebijakan negara diintegrasikan langsung ke pendidikan," jelasnya. Negara-negara tersebut memiliki kebijakan yang jelas dan terarah untuk mendukung perkembangan teknologi dan kesejahteraan masa depan. Contohnya, Arizona State University di Amerika memiliki dua mandat penting, yakni mengembangkan teknologi digital dan kecerdasan buatan untuk masa depan negara.
Sementara itu, di Indonesia, narasumber menilai ada ketidaksesuaian antara kebijakan negara dan pelaksanaan di perguruan tinggi. "Industri seharusnya terintegrasi dengan perguruan tinggi, bukan membuat kebijakan yang justru mempersulit," katanya.
Dengan melihat kesenjangan ini, narasumber mengajak seluruh pihak untuk lebih serius dalam merencanakan masa depan Indonesia, terutama melalui kebijakan pendidikan yang lebih terarah dan terintegrasi dengan kebutuhan global dan perkembangan teknologi.
Membangun Sistem Pendidikan yang Terintegrasi untuk Indonesia 2045
Dalam seminar yang berlangsung di Universitas Negeri Medan (Unimed), narasumber menyampaikan pandangannya tentang pentingnya integrasi kebijakan negara dalam pendidikan, industri, dan masyarakat untuk mewujudkan Indonesia 2045. "Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengintegrasikan kebijakan negara ke perguruan tinggi, industri, masyarakat, dan partai-partai politik," ujarnya, menekankan bahwa kebijakan negara harus selaras dengan dunia pendidikan untuk menghasilkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.
Ia juga mengkritik sistem pendidikan yang ada saat ini dan menegaskan bahwa cara yang ada saat ini tidak akan membawa Indonesia menuju kemajuan. "Kalau tidak ada desain ulang pendidikan, maka pendidikan yang ada sekarang tidak akan mengantar kita ke mana-mana," kata narasumber. Menurutnya, untuk mewujudkan Indonesia yang lebih maju, pendidikan harus mengintegrasikan sains, teknologi, dan sosial, serta menyesuaikan dengan kebutuhan masa depan.
Pentingnya harmonisasi antara berbagai level pendidikan juga menjadi sorotan dalam pembicaraan ini. "Harmonisasi horizontal antara integritas, keterampilan, dan pengetahuan di setiap level pendidikan—mulai dari TK hingga perguruan tinggi—sangat diperlukan," jelasnya. Harmonisasi ini diharapkan dapat menghasilkan generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga integritas dan keterampilan yang mumpuni.
Narasumber juga mengkritisi pendekatan pendidikan yang terlalu fokus pada mata pelajaran seperti matematika, IPA, dan bahasa Indonesia di tingkat SD, tanpa mempertimbangkan pendekatan yang lebih holistik. "Di SD, seharusnya kita mengajarkan tentang diri kita terlebih dahulu. Pendidikan harus dimulai dengan pengenalan terhadap eksistensi Tuhan, karena tanpa itu, sikap sombong akan terbentuk dalam diri anak," ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa pembangunan sikap harus dimulai dari usia dini, karena sikap anak-anak hanya dapat dibentuk pada rentang usia 0 hingga 12 tahun. "Jika pendidikan tidak konsisten dengan model ini, kita akan terus terjebak dalam pola yang tidak membawa kemajuan," tegasnya.
Menurutnya, perubahan sistem pendidikan yang mendalam dan konsisten sangat penting, dimulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Jika tidak, Indonesia hanya akan berputar-putar tanpa kemajuan yang signifikan. Narasumber menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk para alumni, untuk turut berperan dalam memperjuangkan sistem pendidikan yang lebih baik dan terintegrasi. "Perjuangan kita untuk pendidikan yang lebih baik harus dimulai dari sini," pungkasnya.
Tantangan Pendidikan Indonesia dan Pentingnya Pembelajaran Sikap Sejak Dini
Menyinggung perbandingan dengan sistem pendidikan di luar negeri, narasumber memberikan contoh dari Prancis, di mana anak-anak SD diajarkan untuk menghargai orang lain dengan cara yang sederhana namun bermakna, seperti mengucapkan terima kasih dan meminta maaf dengan tulus. Hal ini, menurutnya, menjadi latihan karakter yang penting, yang seharusnya ada dalam kurikulum pendidikan Indonesia. "Kalau kita ajarkan matematika di TK, itu bukan pendidikan yang tepat," tegasnya.
Dalam pandangannya, kurikulum pendidikan di Indonesia perlu disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan karakter, bukan hanya fokus pada pengetahuan semata. Di tingkat SD, misalnya, sebanyak 80% dari pendidikan harus berkaitan dengan sikap, sementara keterampilan dan pengetahuan harus menyusul di tingkat yang lebih tinggi. Ia menekankan bahwa jika pendidikan Indonesia tidak konsisten dengan model ini, maka negara akan terjebak pada siklus yang sama tanpa kemajuan yang berarti.
Di tingkat perguruan tinggi, narasumber mengungkapkan bahwa pendidikannya harus lebih fokus pada pengembangan keterampilan dan wawasan pengetahuan. Namun, dengan model pendidikan yang ada saat ini, Unimed terpaksa menggunakan pendekatan pedagogi yang sebenarnya tidak sesuai dengan kebutuhan pendidikan orang dewasa. "Kami sudah menggunakan andragogi dan hutagogi, tetapi karena yang ditamatkan dari SMA belum memahami diri mereka sendiri, kami harus kembali ke pedagogi," ujarnya.
Ia juga mengkritik kurikulum yang terlalu terbatas pada konten akademik saja dan kurang mempertimbangkan kebijakan nasional yang terkait dengan politik, ekonomi, budaya, dan sosial. Menurutnya, pendidikan di Indonesia harus lebih luas dan dapat diterapkan di berbagai sektor, tidak hanya di sekolah. "Pendidikan harus berjalan di partai politik, ormas, kepolisian, bahkan di kejaksaan," tambahnya.
Terakhir, narasumber menegaskan pentingnya memperkuat kemampuan berpikir kritis untuk menghadapi tantangan masa depan. "Jika cara berpikir kita bagus, kita tidak akan mudah mencurigai satu sama lain. Kita harus mengembangkan keterampilan seperti analisis data, pemecahan masalah, dan keterampilan hidup lainnya di sekolah," ujarnya, seraya mengajak untuk melakukan desain ulang pendidikan Indonesia.Dengan mengakhiri diskusi, narasumber berharap agar pendidikan Indonesia dapat bertransformasi dengan fokus yang lebih besar pada pembangunan karakter dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan masa depan. "Kita harus berani meredefinisi dan merancang ulang pendidikan kita," pungkasnya.
0 Comments
Terimakasih