Pandangan tradisional (konvensional) tentang pengetahuan didasarkan alas akal sehat (common sence) bahwa dunia nyata ada tanpa memperhatikan apakah kita menaruh minat pada objek. Pandangan realis beramsumsi bahwa kita menerima dunia sebagaimana adanya, yang membangun realis di dalam pikiran kita. Perspektif ini menggiring gagasan bahwa pengetahuan dimana struktur mental kita berhubungan. Jika dunia ini berupa tiruan langsung yang korespondensi dengan realita. Pandangan tradisional juga memandang bahwa pengetahuan sebagai sebuah kotak hitam. Kita tidak dapat menilai secara akurat tentang apa yang telah terjadi (stimulus) dan apa yang akan terjadi (respon) tetapi kita hanya dapat menebak tentang apa yang terjadi dalam kotak hitam itu (Bodner, 1986: 5).
Selanjutnya Piaget menyatakan bahwa pandangannya tradisional terhadap pengetahuan sebagai adanya realita lahiriah, obyektif dan tetap. Subyek menerima secara pasif realita obyek tersebut. Subyek pada dasarnya dilihat sebagai suatu tabula rasa bagaikan sehelai kertas putih kosong (Piaget, 1969).
Model pembelajaran konvensional lebih berpusat pada guru (teacher centre). Sudjana (2002: 39) menyatakan bahwa kegiatan pembelajaran yang berpusat pada guru menekankan pentingnya aktivitas guru dalam proses belajar mengajar.
Sadia (1996:12) mendefisikan model belajar konvensional sebagai rangkaian kegiatan belajar yang dimulai dengan orientasi dan penyajian informasi yang berkaitan dengan konsep yang akan dipelajari, dilanjutkan dengan pemberian ilustrasi atau contoh soal oleh guru, diskusi tanya-jawab sampai akhirnya guru merasa bahwa apa yang telah diajarkannya dapat dimengerti oleh siswa.
Ausubel (Romiszowski, 1990) menyatakan model pembelajaran konvensional atau ekspositori didasarkan pada proses meaningful reception learning. Pendekatan ini cenderung menekankan penyampaian informasi yang bersumber dari buku teks, referensi atau pengalaman pribadi dengan menggunakan teknik ceramah, demonstrasi, diskusi dan laporan studi. Dengan demikian pengetahuan yang akan dipelajari siswa harus disajikan dan guru perlu memberikan berbagai definisi dari konsep yang akan diterima siswa.
Dalam pembelajaran ekspositori guru cenderung memegang kontrol proses pembelajaran yang aktif, sementara siswa relalif pasif menerima dan mengikuti apa yang disajikan oleh guru. Pembelajaran ekspositori merupakan pembelajaran yang lebih berpusat pada guru (teacher centered), guru menjadi sumber dan pemberi informasi utama. Meskipun dalam pembelajaran ekspositori digunakan metode selain ceramah dengan menggunakan berbagai media namun penekanannya tetap lebih pada proses penerimaan pengetahuan.
Pada pembelajaran ekspositori siswa siswa diharapkan telah siap mental menerima apa yang diberikan guru atau mengikuti apa kehendak guru. Guru biasanya yang mendemonstrasikan sesuatu untuk menjelaskan konsep, prinsip, hukum atau teori-teori tertentu. Pada pembelajaran fisika misalnya guru memberikan suatu teori melalui ceramah, lalu membuktikannya melalui demonstrasi selanjutnya mendiskusikan aplikasinya pada kehidupan sehari-hari dengan tetap guru memegang kendali seluruh proses pembelajaran dengan siswa mengikuti apa yang telah dirancang guru.
Namun model pembelajaran yang berpusat pada guru ini memiliki keunggulan: 1) bahan belajar dapat disampaikan secara tuntas, 2) dapat diikuti oleh siswa dalam jumlah besar, 3) pembelajaran dapat dilaksanakan sesuai dengan alokasi waktu yang ditetapkan, 4) target materi relatif mudah dicapai. Sedangkan kelemahannya yang dap terjadi adalah: 1) membosankan, 2) keberhasilan perubahan sikap dan prilaku peserta didik relatif sulit diukur, 3) kualitas pencapaian tujuan belajar yang telah ditetapkan adalah relatif rendah karena pendidik sering hanya mengejar target waktu untuk menghabiskan target materi pembelajaran, dan pembelajaran kebanyakan menggunakan ceramah dan jawab (Sudjana, 2005:39) Jadi Kelebihan dari pendekatan ini adalah mudah dilakukan karena tanpa memerlukan suatu rangkaian khusus pembelajaran dapat diterapkan pada materi yang mudah diakses siswa yang lebih bersifat hafalan. Sementara kelemahannya adalah: 1) kurang memberikan kesempatan bagi berkembangnya kemampuan eksplorasi, kreativitas, kemandirian dan sikap kritis siswa. 2) cenderung menimbulkan sikap pasif pada siswa karena terbiasa menerima. 3) kegiatan cenderung bersifat mekanistis. Jadi model pembelajaran ekspositori tidak dilandasi oleh paham konstruktivisme (Wina Sanjaya, 2006).
Model ekspositori dalam kajian ini adalah menekankan pada pembelajaran biasa dipergunakan oleh guru dalam praktek pembelajaran secara aktual di lapangan. Sintak pembelajaran dengan model ekspositori adalah; 1) pada tahap pendahuluan guru menyampaikan pokok-pokok materi yang akan dibahas dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, 2) pada tahap inti guru menyampaikan materi dengan ceramah, tanya jawab, dilanjutkan demonstrasi atau eksperimen untuk memperjelas konsep diakhiri dengan penyampaian ringkasan atau latihan -latihan soal, 3) pada tahap penutup guru memberikan evaluasi maupun tugas-tugas untuk dikerj akan di rumah.
0 Comments
Terimakasih