Peresmian Tugu Raja Sitanggang di Pangururan: Wujud Kebersamaan dan Pelestarian Budaya


Pangururan – Momen bersejarah tercipta di Tiga Urat Buhit, Pangururan, Kabupaten Samosir, dengan diresmikannya Tugu Raja Sitanggang. Acara ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus penghormatan kepada leluhur bagi seluruh keturunan Raja Sitanggang yang tersebar di berbagai daerah, baik di Indonesia maupun mancanegara.

Peresmian tugu ini dihadiri oleh ratusan keluarga besar Sitanggang dari berbagai sektor yang tergabung dalam Punguan Raja Sitanggang Nasional serta komunitas Purasitabor. Kehadiran para anggota marga Sitanggang dari berbagai wilayah menunjukkan kekompakan dan kesungguhan dalam melestarikan adat serta sejarah leluhur mereka.

Acara dimulai dengan prosesi adat Batak yang khusyuk dan penuh makna. Para tetua adat menyampaikan doa serta harapan agar keberadaan Tugu Raja Sitanggang menjadi pengingat bagi generasi mendatang akan pentingnya menjaga nilai-nilai persatuan, gotong royong, dan adat istiadat yang diwariskan.

Menurut Ketua Panitia, peresmian tugu ini merupakan hasil dari kerja keras serta gotong royong dari seluruh anggota punguan. Dana yang terkumpul berasal dari sumbangan sukarela anggota marga Sitanggang dari berbagai daerah, termasuk Medan, Jakarta, Palembang, Yogyakarta, Bandung, hingga Bengkulu.

"Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh keluarga besar Sitanggang yang telah berkontribusi baik dalam bentuk materi, tenaga, maupun doa untuk mewujudkan pembangunan tugu ini," ujar salah satu panitia dalam sambutannya.

Dana yang terkumpul mencapai ratusan juta rupiah, yang digunakan untuk pembangunan tugu, persiapan acara, dan kebutuhan lainnya. Donasi yang terus mengalir menunjukkan kuatnya rasa memiliki dan tanggung jawab bersama dalam menjaga warisan leluhur.

Selain prosesi adat, peresmian ini juga diisi dengan berbagai rangkaian acara seperti tarian tor-tor, doa bersama, serta sambutan dari tokoh masyarakat dan perwakilan keluarga besar Sitanggang. Acara berlangsung dengan penuh sukacita dan kebersamaan.

Salah satu peserta yang hadir, Ir. Jonni Sitanggang dari Medan, menyampaikan rasa bangganya atas keberhasilan acara ini. "Ini bukan sekadar tugu, tapi juga simbol kebersamaan kita sebagai keturunan Raja Sitanggang. Harapan kami, generasi muda dapat terus mengenang dan menghormati leluhur kita," ujarnya.

Lokasi Tugu Raja Sitanggang di Tiga Urat Buhit, Pangururan, dipilih karena memiliki nilai historis yang kuat bagi keturunan Raja Sitanggang. Tempat ini diyakini sebagai salah satu titik penting dalam perjalanan leluhur mereka, menjadikannya sebagai lokasi yang sakral dan penuh makna.

Punguan Raja Sitanggang dan Purasitabor juga berharap bahwa tugu ini bisa menjadi salah satu destinasi wisata budaya, tidak hanya bagi keturunan Sitanggang, tetapi juga bagi masyarakat luas yang ingin mengetahui lebih dalam tentang sejarah Batak.

Peresmian ini juga menjadi ajang silaturahmi besar bagi keluarga besar Sitanggang. Banyak anggota keluarga yang datang dari luar daerah, bahkan dari luar negeri, untuk menyaksikan langsung momen bersejarah ini.

Acara diakhiri dengan doa bersama, di mana para hadirin berharap agar keberadaan tugu ini dapat memperkuat ikatan kekeluargaan, serta menjadi pengingat bahwa persatuan adalah kekuatan utama dalam membangun masa depan yang lebih baik.

Dengan suksesnya peresmian ini, keluarga besar Sitanggang menegaskan komitmennya untuk terus menjaga dan melestarikan budaya Batak. Seperti yang sering digaungkan dalam punguan: Sitanggang Bersatu, Sitanggang Maju, Purasitabor Satahi Saoloan!

Post a Comment

0 Comments